Luna Maya "kejar" Bts Hingga Ke Pendatang Negeri, Netizen Bilang

Para bujang tersebut dipimpin oleh Cak Topel yang istrinya lumpuh & selalu ia tinggal otonom dirumah. Mereka menungguinya setiap pulang, dan menghalangi jalannya kembali kerumah.
Kalau ingin membuatku berhenti berkeliaran dan bermain sampai larut malam di daerah baru, seharusnya mereka memberi alasan yang bagus dan masuk pikiran. Bukan malah menakut-nakutiku secara sesuatu yang ditakuti keturunan perempuan. Kesalahan ibu & mbah, dalam menakut-nakutiku, ialah menceritakan sebuah kisah dengan, entah benar atau tak, justru membuatku tertarik buat mendekati sumbernya.
Pada suatu sore yang hangat di padang ilalang dekat dusun. Sundari bukanlah siluman, hantu, atau makhluk mengerikan yang layak dijadikan lelucon semata. Kami berdansa, berdendang, dan makan enak sepanjang hari. Saat malam, aku mencoba untuk melewati gerbang mawar dan mengintip keadaan rumahku; tapi tak bisa. Yang kulihat selepas gerbang mawar adalah hamparan taman yang sama, lebih besar dan luas dari ini.
Keesokan harinya aku terbangun, cahaya matahari menyinari jendela kamar yang sedikit berdebu ini, namun terlihat lebih indah dan menarik daripada tadi malam. Mainan dan buku berserakan dibawahnya. Kakiku sedikt nyeri saat tak sengaja menginjak empat batang krayon yang tergeletak di karpet. Aku mencari pak pelukis, tapi sebelum menemukannya aku mendengar tawa riang anak-anak. Aku ingin mencari tahu mengenai pelukis itu; lumayan, aku dapat mencari kesenangan disela malam-malam yang selama ini selalu jenuh.
Pernah amat suaminya mengantarnya ke khanah sekolah reot itu, dan menungguinya sampai pulang. Sedihnya, ditengah perjalanan pulang ia babak belur dihajar pemuda-pemuda berbadan besar ituâ€"Setelahnya, Sundari melarangnya untuk sering menampakkan dirinya di depan warga dusun.

Pada satu buah malam bulan purnama dengan lembab dan becek, Sundari melihat bola-bola cahaya daripada jendela rumahnya yang ditutupi oleh anyaman jerami. Bercahaya api itu berasal daripada berpuluh obor warga nagari yang berteriak-teriak dan menyodorkan Sundari dan suaminya supaya mengaku bahwa mereka memakai pesugihan. Dari situ, bisa dipastikan bagaimana Sundari & suaminya dapat selalu muncul berkecukupan bahkan dengan duit mereka yang pas-pasan. Bujang-bujang berbadan besar itu cepat menyebarkan cerita dan tuduhan-tuduhan yang membuat telinga gawat.
Sundari dan suaminya makin menarik diri dari kelompok dusun. Yang harus dikagumi di sini adalah kelakuan pantang menyerah mereka. Bervariasi upaya telah dilakukan buat menjungkalkan Sundari dan suaminya dalam fitnah, sampai walhasil mereka mencium sesuatu dengan janggal dari rumah lengang mereka. Mereka kembali memanggil-manggil dan menggoda Sundari dengan makin merapatkan kerudung remaja yang biasanya ia selampirkan apabila berjalan ke bersekolah tiap pagi dengan kebaya sederhananya.

Posting Komentar

0 Komentar