About Korean.
Hanya saja saat dijalan kecil yang Daezi pilih, ia mendapat jika dirinya tidak otonom, seseorang seperti sedang mengikutinya. Jika beberapa hari dengan lalu gadis ini selamanya menepis pemikiran jika dirinya sedang diikuti oleh seseorang. Kali ini firasatnya betul-betul yakin kalau dirinya lumayan diikuti, Daezi cepat-cepat tampak dari jalanan sepi dengan ia lewati.
Seperti dengan ia dengar dari kaum cerita Mingyu tentang kelakuan yang baik saat dirimu merasakan sedang diikuti ataupun diuntit, kau harus menyelenggarakan diri di satu keramaian atau kerumunan pejalan kaki. Hal itu memudahkanmu untuk lepas dari sipenguntit, Daezi melupakan tujuan awal untuk mentransfer uang pada rekening pemilik rumah. Gadis ini memilih untuk begabung pada kerumunan para penumpang bus. Arraso hyeong, cafe itu paling nyaman menurutku.
Aku yang belum ahli memainkan biola mencoba merekam permainanku. Angin terus berhembus dari jendela dan kita duduk berhadapan. Alih-alih lampu kau tinggikan beberapa batang lilin & nyalakan mancis sehingga keturunan lilin itu terjejer menyekat kita. Aku menatap wajahmu dalam pendar merah wax dan kau lakukan sesuatu yang serupa. Aku tidak keberatan, kita sesama orang2 berantakan yang terserak & sudah diatur untuk mengatur satu sama lain.
Saya tak paham bagaimana situ dapat kembali ke pondok lusuhku dengan mata nun kau katakan tak siap melihat dengan jelas ini. Meski mata hitam legam itu tak dapat mengamati guratan pun pola nun begitu kecil, kau berwarung keras untuk menatap & menggaris bentuk wajahku sedemikian rupa. âDoa yang saya rapal sendiri kala menoreh. â Dan kau mengisyaratkan sekeranjang penuh arca-arca mungil dan hewan-hewan pahatanmu dalam bawah matahari yang pada beberapa hembusan angin aja akan tenggelam. Kau menoreh begitu dekat dengan matamu, dan itu menyakitkanku pancingan melihatnya.
Kau tak peduli di pemberontak dan dedengkot penjahat di luar sana, lu terus menemuiku dalam senandika sunyimu. Kulihat kakimu dengan penuh guratan merah dan telapak dan pergelangan tanganmu yang dipenuhi sayat, kemudian kau meninggalkanku dengan arca-arca kecilmu yang kau berjajar sedemikian rupa. Pada pengintai esok harinya aku tidak menyangka kau akan berlabuh lagi dan membawakanku kaum buah pahatan untuk kupajang sebagai tanda terimakasih.
Aku mencabut kunci dari tempatnya dan membanting pintu, turun lalu mengitari gedung untuk mengambil tubuhmu yang terkulai di bawah sembari berusaha agar tidak terlihat oleh siapapun. Kau melintasi pagar lilin yang kau buat sendiri dan bersandar di sampingku lalu tertidur.
Lelah berjalan, lu meminta izin untuk bersenang-senang di gubukku sejenak aja yang tanpa peduli apapun aku kabulkan. Aku tidak ambil pusing atas kehadiranmu dan kembali merapal serapah serta menempa keris. Sayangnya kau membuyarkan konsentrasiku secara balas merapal mantra seperti sebuah kidung yang dilantuntkan dalam suara yang tentu sekali tidak merdu sekali lalu memahat sebuah arca kecil di tanganmu. Dalam pendaran lampu jalan yang posisinya cukup jauh dan paving yang mungkin hangat-hangat dingin, aku dapat melihat sebuah tubuh tergeletak berbalut kaus merah dan rambut berantakan. Kaus merah yang kuyakin milikmu, entah berlumur darah atau tidak.
Itulah yang membuatku bergegas pergi ke tempatmuâ"menaiki tangga darurat dengan pengap tanpa jendela tersebut sampai ke lantai sepuluh. Setelah beberapa kali kerugian lembut tak kau perdulikan, aku menggedor keras gerbang kamarmu sampai akhirnya lu bukakan dengan enggan. Seluar pendekmu, kaus merah tak karuan, kakimu yang rusak dan matamu, membara warna merah menyambutku. Jendela terbuka, udara menyelonong masuk dan menyebarkan bau alkohol serta gas rokok yang tersisa sedikit saja.
Di antara bebauan yang mengaduk rasa itu masih dapat kucium jelas wangi parfummuâ"parfum berbotol biru yang umum, tapi baunya sudah kucap sebagai baumu. Tinggiku hanya sebatas lehermu, membuatku harus sedikit menengadah saat menatap matamu yang merah, merah, merah entah kau habis menangis atau kurang tidur atau mungkin terlalu banyak minum.
Tubuhku yang tinggi dan serabut yang terurai saat itupun tak menanamkan rasa terharu di hati orang dengan berpapasan denganku atau usul untuk pertolongan, namun cuma kengerian, ngeri, ngeri, & ngeri. kau merenggut pisau itu dariku, membungkusnya secara selendang yang tergantung dalam pinggangmu sebelum tanpa kicauan kau undur diri. Di petang yang semestinya, lu tetap datang menemuiku secara keranjangmu yang penuh pahatan.
Seperti dengan ia dengar dari kaum cerita Mingyu tentang kelakuan yang baik saat dirimu merasakan sedang diikuti ataupun diuntit, kau harus menyelenggarakan diri di satu keramaian atau kerumunan pejalan kaki. Hal itu memudahkanmu untuk lepas dari sipenguntit, Daezi melupakan tujuan awal untuk mentransfer uang pada rekening pemilik rumah. Gadis ini memilih untuk begabung pada kerumunan para penumpang bus. Arraso hyeong, cafe itu paling nyaman menurutku.
Aku yang belum ahli memainkan biola mencoba merekam permainanku. Angin terus berhembus dari jendela dan kita duduk berhadapan. Alih-alih lampu kau tinggikan beberapa batang lilin & nyalakan mancis sehingga keturunan lilin itu terjejer menyekat kita. Aku menatap wajahmu dalam pendar merah wax dan kau lakukan sesuatu yang serupa. Aku tidak keberatan, kita sesama orang2 berantakan yang terserak & sudah diatur untuk mengatur satu sama lain.
Saya tak paham bagaimana situ dapat kembali ke pondok lusuhku dengan mata nun kau katakan tak siap melihat dengan jelas ini. Meski mata hitam legam itu tak dapat mengamati guratan pun pola nun begitu kecil, kau berwarung keras untuk menatap & menggaris bentuk wajahku sedemikian rupa. âDoa yang saya rapal sendiri kala menoreh. â Dan kau mengisyaratkan sekeranjang penuh arca-arca mungil dan hewan-hewan pahatanmu dalam bawah matahari yang pada beberapa hembusan angin aja akan tenggelam. Kau menoreh begitu dekat dengan matamu, dan itu menyakitkanku pancingan melihatnya.
Kau tak peduli di pemberontak dan dedengkot penjahat di luar sana, lu terus menemuiku dalam senandika sunyimu. Kulihat kakimu dengan penuh guratan merah dan telapak dan pergelangan tanganmu yang dipenuhi sayat, kemudian kau meninggalkanku dengan arca-arca kecilmu yang kau berjajar sedemikian rupa. Pada pengintai esok harinya aku tidak menyangka kau akan berlabuh lagi dan membawakanku kaum buah pahatan untuk kupajang sebagai tanda terimakasih.
Aku mencabut kunci dari tempatnya dan membanting pintu, turun lalu mengitari gedung untuk mengambil tubuhmu yang terkulai di bawah sembari berusaha agar tidak terlihat oleh siapapun. Kau melintasi pagar lilin yang kau buat sendiri dan bersandar di sampingku lalu tertidur.
Lelah berjalan, lu meminta izin untuk bersenang-senang di gubukku sejenak aja yang tanpa peduli apapun aku kabulkan. Aku tidak ambil pusing atas kehadiranmu dan kembali merapal serapah serta menempa keris. Sayangnya kau membuyarkan konsentrasiku secara balas merapal mantra seperti sebuah kidung yang dilantuntkan dalam suara yang tentu sekali tidak merdu sekali lalu memahat sebuah arca kecil di tanganmu. Dalam pendaran lampu jalan yang posisinya cukup jauh dan paving yang mungkin hangat-hangat dingin, aku dapat melihat sebuah tubuh tergeletak berbalut kaus merah dan rambut berantakan. Kaus merah yang kuyakin milikmu, entah berlumur darah atau tidak.
Itulah yang membuatku bergegas pergi ke tempatmuâ"menaiki tangga darurat dengan pengap tanpa jendela tersebut sampai ke lantai sepuluh. Setelah beberapa kali kerugian lembut tak kau perdulikan, aku menggedor keras gerbang kamarmu sampai akhirnya lu bukakan dengan enggan. Seluar pendekmu, kaus merah tak karuan, kakimu yang rusak dan matamu, membara warna merah menyambutku. Jendela terbuka, udara menyelonong masuk dan menyebarkan bau alkohol serta gas rokok yang tersisa sedikit saja.
Di antara bebauan yang mengaduk rasa itu masih dapat kucium jelas wangi parfummuâ"parfum berbotol biru yang umum, tapi baunya sudah kucap sebagai baumu. Tinggiku hanya sebatas lehermu, membuatku harus sedikit menengadah saat menatap matamu yang merah, merah, merah entah kau habis menangis atau kurang tidur atau mungkin terlalu banyak minum.
Tubuhku yang tinggi dan serabut yang terurai saat itupun tak menanamkan rasa terharu di hati orang dengan berpapasan denganku atau usul untuk pertolongan, namun cuma kengerian, ngeri, ngeri, & ngeri. kau merenggut pisau itu dariku, membungkusnya secara selendang yang tergantung dalam pinggangmu sebelum tanpa kicauan kau undur diri. Di petang yang semestinya, lu tetap datang menemuiku secara keranjangmu yang penuh pahatan.


Posting Komentar
0 Komentar