Luang Bikin Geger Dengan Suak Babak Belur, Young Lex Akhirnya Buat Pengakuan

Ia tak ada dimanapun untuk saat ini, dan aku mengitari tekun serta koridor untuk menelaah tanda-tanda kehadirannya untuk kinerja yang nihil. Sayangnya beta harus kembali sebelum weker 12 esok hari, serta ketika terbangun, aku saru sadar akan ketukan patut di pintu kamarku.
Ia meninggalkanku dalam remang-remang lorong kosong, sambil menggumam setelah melihat tulisan kecil di kertas yang kuberikan. Aku tak dapat terlelap lagi setelahnya. Aku membereskan barang-barangku dan beranjak untuk meninggalkan penginapan.

Aku tidak sebodoh itu untuk harus bertanya kenapa. Dan karena saya tidak sebodoh itu, beta tidak menyukai cara merekaĆ¢€"Wanti-wanti dari mereka agar beta tak berkeliaran sendiri.
Beta ingin berpamitan padanya lewat, mengembalikan jam kantungnya, serta berterimakasih atas kisah-kisah nun ia ceritakan secara tersirat dalam senandung sepi. Tapi ia tak di sana, tidak pada kursi kecilnya. Tidak dengan harmonikanya, tidak menatap taman.
Mbah terus berkata kalau di perempatan sebelah rumah ini, jikalau aku bermain sendirian, saya akan dikejar-kejar oleh pejuang kompeni tak berkepala dengan akan menebas kepalaku, ataupun membawaku untuk disembunyikan. Embuk dan mbah selalu melarangku berjalan sendirian di pendatang saat pagi-siang-sore-malam semenjak sulih ke rumah yang terlalu besar ini, terlalu hening ini.
Tahun depan usiaku 15 tahun, dan aku takkan mempunyai waktu untuk banyak permainan lagi. Aku ingin merampungkan sisa usiaku dengan permainan di jalanan sampai magrib hari. Sayangnya lingkungan tersebut terlalu asing untukku. semata jalannya terlihat sama serta terlalu besar, terlalu penuh rumput liar dari rumah-rumah kosong yang jaraknya terlalu jauh, dan dedaunan pokok kayu menjuntai bak rambut kerokot nenek tua.
Aku mengintip jam kantung yang di genggamannya, belum ia tutup. Jarum detiknya tak berjalan, begitu juga jarum panjang dan pendeknya. Namun derasnya hujan dan gema suaranya membuat kesan bahwa jam itu terus berjalan mengejar rindu. Ia mengutak-atik sedikit jamnya, dan jam itu mengeluarkan suara kotak musik. Tapi ini bukan jam kantung dengan kotak musik dengan biasa kita lihat, peniti jamnya berputar secara terbalik.
Aku bukan menoleh ke belakang saat ia berjalan melewatiku; yang kutahu, saat aku membalikkan badan untuk melihat apakah ia duduk di kursi kecil yang sama atau tidak, ia sudah tak ada, dimanapun. Bahkan tak ada suara pintu dibuka yang menandakan apabila ia memasuki kamarnya. Tidak ada lampu dinding didepan kamar yang menyala, hanya aku dan sunyi. Aku, sunyi, dan jam kantung yang putarannya terbalik mengindikasikan kisah masa lampau.
Beta membukanya setelah memakai mantel, dan memejamkan mata di dalam keadaan yang sama serta meluruskan gaun malamku. Tahi angin masih rintik, malam tetap gelap, lampu-lampu menyala kurang lebih saja, dan hanyalah homo perbedaan; pria itu bukan duduk pada kursi kecilnya. Aku undur diri guna tidur lebih awal, serta menulis sebuah pesan di secarik kertas; lagunya mengingatkanku akan bagaimana caranya mempertimbangkan dan rindu. Aku harus pulang, tapi entah mengapa aku ingin kembali ke sini.

Posting Komentar

0 Komentar